Selasa, 29 Maret 2016

PERJALANAN AKHIR FLORES : PINK BEACH, PULAU KELOR BERAKHIR DI LABUAN BAJO

Meninggalkan Pulau Padar kami bermalam di pulau Kalong. Pulau ini seperti dijadikan tempat “parkir” kapal yang berlayar ketika malam hari. Ketika kami kesini memang sudah banyak kapal yang berhenti. Disini juga ada beberapa anak yang berjualan, mereka berasal dari pulau kalong. Mereka naik ke atas kapal kami untuk menawarkan pahatan kayu berbentuk komodo. Mereka kira-kira berumur 10-15 tahun, dengan wajah polos dan raut muka khas orang flores membujuk agar kami membeli barang yang mereka bawa. Beberapa dari kami membelinya, sayapun membeli satu. Awalnya mereka menawarkan dengan harga 100.000, lalu tawar menawar  jadi 50.000. Tak berapa lama setelah selesai tidak ada yang beli lagi, adik-adik kecil itu “banting harga” mereka bilang 25.000 aja, rasanya mau saya simsalabim itu pahatan komodo jadi hidup ehehe *nangis rugi* tapi tidak apa-apa toh kalau kami membeli hasil kerajinan mereka, itu untuk menambah pendapatan warga setempat.

Sinyal di Pulau Kalong ini cukup kenceng, saya memakai telkomsel dan memang sepertinya telkomsel paling bagus sinyalnya disini. Sudah pasti jika ada koneksi internet digunakan untuk update kabar ke keluarga dan juga (pamer) update ke teman melalui social media.
Namanya Pulau Kalong, tapi saya tidak melihat ataupun mendengar suara kalong disini, karena gelap juga mungkin jadi saya tidak terlalu memperhatikan disebelah mana pulau kalongnya. Malam ini karena kapal tidak bergerak jadi saya tidur tanpa minum antimo terlebih dahulu seperti malam-malam sebelumnya. Sepertinya saya cukup capek karena trekking ke Gili Laba dan Pulau Padar jadi saya langsung tidur setelah selesai makan dan sholat.
Pukul 5 pagi, seperti biasa alarm di handphone saya berbunyi, kali ini saya langsung bangun, tayamum dan sholat shubuh. Setelah itu baru… tidur lagi ehehe. Pukul 7 ketika matahari sudah mulai menampakkan cahayanya saya bangun, lalu sarapan dan mencharge handphone dan kamera. Jadi mencharge HP ini ada waktu-waktu tertentu. Tidak bisa setiap saat generator dihidupkan untuk charge HP. Pagi ini Pak Man si ABK kapal memberitahukan, siapa yang mau charge, silahkan bisa diisi sekarang. Dan beginilah jika semua gadget sedang di charge..




Mandi di Pink Beach
Kapal melaju menuju destinasi berikutnya Pink Beach. Mandi yang saya maksud bukan seperti mandi dirumah memakai shampoo dan sabun, tapi di pink beach ini berasa nyebur dikolam. Airnya seger banget dan dengan cuaca yang pas juga. Kapal kami tidak bisa merapat ke Pink Beach karena banyak karang. Jadi kami harus berenang jika ingin ke pantainya.




Pasir pantainya berwarna pink, tapi menurut saya masih lebih pink pasir di Pulau Padar. Saya hanya menikmati sebentar di pantainya. Tidak sempat untuk explore pulaunya. Disini kami hanya berenang dan berjemur cantik. Tidak sampai 2 jam kami telah dikapal lagi untuk meneruskan perjalanan.









Photo yang diambil oleh kamera teman saya di Pink Beach.



Mandi di kapal

Nah ini baru mandi yang sebenarnya, kami diberikan masing-masing (hanya) satu botol ukuran 1 liter air bersih  untuk membilas badan setelah berenang di laut. Karena keterbatasan air yang dibawa jadi kami harus irit dalam menggunakan air. Untuk kamu yang ingin sailing, bisa sebagai tambahan air buat lap badan yaitu bawa do care, sejenis tisu basah tapi lebih besar dan tidak lengket. Waktu itu teman saya membelikannya di ranch market (bukan promosi)

Dari Pink Beach saya melanjutkan ke Pulau Rinca, saya telah menulis di blog sebelumnya di sini Akhirnya Bertemu Komodo

Menyesal tidak ke Puncak Kelor.

Pulau Kelor? Pasti tidak terlalu banyak yang tau, pulau ini sepertinya tidak seterkenal Pulau Padar atau Pulau Komodo. Atau mengira ini Pulau Kelor yang ada di Jakarta, yang masuk kedalam wilayah pulau seribu. Bukaan, ini Pulau Kelor di Flores. Tidak jauh dari Labuan Bajo.

Menempuh perjalanan sekitar 1-2 jam dari Pulau Rinca, Pulau ini tidak terlalu besar. Saat kami tiba sudah ada beberapa kapal yang bersandar.  Pulau ini tak berdermaga, dan tidak ada karang, jadi langsung lautan dalam, jadi kapal kami bersandar di pantainya. Pantainya berpasir putih halus.  Terdapat bukit di Pulau ini yang cukup tinggi. Lihat dari bawah saja saya agak ngeri dan malas untuk menaikinya. Tidak sesemangat naik ke Gili Laba atau Pulau Padar. Saya hanya mengelilingi beberapa pohon dan berfoto di kaki bukitnya. Beberapa teman saya ada yang naik ke atas bukitnya.






Setelah saya lihat hasil photo dari atas, saya agak menyesal tidak naik ke atas. Terlihat cekungan pulau Kelor ini dengan hamparan pasir putih ditambah birunya laut, kamu cantik sekali!













Tapi mereka yang naik keatas juga bilang kalau untuk naik tak sesulit turun. Karena bukit ini cukup tajam kemiringannya, jadi harus hati-hati sekali ketika turun.



                             


Hello Labuan Bajo and (Never) Say Good Bye to Pak Man

Setiap perjalanan pasti ada tujuan, ketika sudah sampai ke tujuan kita akan merencanakan perjalanan berikutnya dan meninggalkan tujuan yang telah dicapai. Saat ini juga kami telah sampai diakhir perjalanan, kami masing-masing akan melanjutkan ke perjalanan berikutnya.
Labuan Bajo menjadi akhir perjalanan sailing kami. Suka duka selama 4 hari telah kami lalui bersama. Senang sekali saya melakukan perjalanan bersama kalian, semoga di lain waktu bisa bertemu kembali. Dan juga kepada Pak Man sang ABK yang baik, masak makanan yang lumayan enak, guide yang ga bosen ditanyain terus dan bapak yang suka membantu kami, anak-anaknya selama 4hari di kapal.

Sampai Bertemu lagi kawaan, semoga masih ada perjalanan yang akan kita lalui bersama suatu saat nanti.

Sampai bertemu kembali

Pelabuhan Labuan Bajo

Sunset Pertama di Labuan Bajo

1 komentar:

  1. Emang pemandangan dari Gili Laba top banget ya Mba :')

    BalasHapus